Medan — Teka-teki mengenai siapa aktor intelektual di balik layar yang membuat komplotan mafia bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di SPBU 14.201.11101, Jalan Gaperta, seakan kebal hukum perlahan mulai terkuak. Setelah sebelumnya sempat melakukan taktik "tiarap" sesaat dan kini secara terang-terangan kembali menyedot hak rakyat miskin, tiga nama santer disebut-sebut sebagai pengendali utama di lapangan.
Berdasarkan informasi dan desas-desus yang berhasil dihimpun di lapangan, jaringan penyedot solar subsidi di SPBU tersebut diduga kuat berada di bawah kendali tiga sosok berinisial Ri alias Pal, Jo alias Nem, dan A alias Met.
Ketiga nama ini disinyalir bukanlah pemain baru, melainkan pemain lama yang memiliki jaringan rapi dalam sindikat penyelewengan BBM di wilayah tersebut.
Bagi Peran dan Armada "Siluman"
Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, ketiga terduga bos mafia ini memiliki peran yang terstruktur dan terorganisir. Ada yang bertugas sebagai koordinator armada pelangsir (sering disebut "helikopter" yang bolak-balik mengisi BBM), pengatur gudang tangki timbun, hingga sosok yang memiliki tugas khusus "berkoordinasi" untuk memastikan operasi mereka tidak tersentuh oleh aparat penegak hukum.
Praktik pengurasan solar ini semakin nyata dengan masih bebasnya kendaraan-kendaraan mencurigakan yang antre di jalur Biosolar SPBU Gaperta. Seperti yang terekam dalam bidikan kamera baru-baru ini, sebuah mobil minibus jenis Toyota Kijang Innova berwarna hitam dengan nomor polisi BK 1073 D° tampak bebas melakukan pengisian di pompa Biosolar.
Mobil-mobil bermesin diesel bertipe MPV atau SUV semacam ini sering kali menjadi armada favorit para pelangsir.
Modus yang kerap digunakan adalah memodifikasi bagian dalam mobil dengan baby tank (tangki tambahan) yang tersambung langsung ke tangki utama, sehingga mampu menampung solar subsidi hingga ratusan liter dalam sekali jalan—jauh di atas batas kewajaran konsumsi kendaraan pribadi.
Armada-armada pelangsir semacam inilah yang diduga kuat beroperasi di bawah komando jaringan Ri alias Pal, Jo alias Nem, dan A alias Met.
*Bola Panas di Tangan Aparat*
Munculnya ketiga inisial ini seolah menjawab keresahan publik tentang mengapa komplotan tersebut memiliki nyali yang begitu besar untuk kembali beroperasi di lokasi yang sama persis tak lama setelah viral.
Dugaan adanya "beking" kuat semakin menguat, membuat sistem digitalisasi dan barcode MyPertamina seolah tak ada harganya di hadapan sindikat ini.
Kini, dengan mencuatnya nama Ri alias Pal, Jo alias Nem, dan A alias Met, bola panas sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum, khususnya Polrestabes Medan, Polda Sumut, serta BPH Migas.
Masyarakat menanti pembuktian komitmen dari kepolisian. Mampukah hukum menjangkau dan menyeret nama-nama yang diduga sebagai pengendali mafia solar tersebut ke meja hijau?
Ataukah mereka akan terus menjadi sosok tak tersentuh yang bebas memperkaya diri, sementara para sopir angkot, nelayan, dan rakyat kecil harus terus mengantre panjang demi tetesan solar subsidi?
Sebagai bentuk pemenuhan kode etik jurnalistik dan keberimbangan berita (cover both sides), Redaksi telah mencoba melakukan konfirmasi resmi kepada pihak kepolisian. Namun, hingga berita ini diterbitkan, Kasat Intelkam Polrestabes Medan, Kompol Suherman Siregar, belum membalas konfirmasi pesan WhatsApp yang dilayangkan oleh wartawan terkait dugaan maraknya kembali praktik mafia solar dan nama-nama yang diduga terlibat tersebut.
Rakyat menolak lupa, kamera warga belum mati, dan publik akan terus menagih janji ketegasan aparat penegak hukum di Kota Medan. (Tim)
